Kehidupan melajang seperti yang kita maksudkan tersebut terjadi karena adanya ketidak cocokan dengan pasangannya yang kadang meningkat menjadi permushan ketidak cocokan tersebut bisa bermulaan dari banyak hal seperti : (1) awal hubungan yang dibangun atas dasar kepentingan tertentu dan bukan atas dasar cinta, (2) adanya perbedaan watak dan sifat dan watak yang kemudian tidak saling mengerti selama menjalin hubungan, (3) karena rasa kecemburuan yang berlebihan sehingga menutupi jalinan kasih suci yang ada, (4) adanya latar belakang psikologis, sosiologis, dan ekonomi yang berbeda yang selama menjalin hubungan tidak dapat di damaikan, (5) adanya perbedaan usia yang lantas tidak terjembatani menjadi harmonis, (6) dan penyebab-penyebab lainnya.
Selanjutnya kenapa kehidupan melajang ini dapat mengakibatkan sunyi, sepi, dan kesepian ? untuk menjawab hal terebut di atas kita dapat melihatnya paling tidak dari tiga kacamatan (1) kacamata fisiologis, (2) kacamata psikologis, dan (3) kacamata sosiologis.
Waktu terus berjalan, usia terus bertambah, dan tak terasa kulitnya makin keriput, tulangnya makin keropos, otaknya makin melemah, hingga pada akhirnya si lajang tersentak, tubuhnya telah berubah, makin tua. Tetapi apa yang telah dilakukan dengan tubuhnya tersebut ?. Ternyata meskipun dia puya istri tetapi secara fisik dia tak pernah sebadan dengan istrinya. Bahkan begitujauh dua tubuh yang semestinya menjadi satu, yang semestinya selalu bersama, yang semestinya selalu berdekatan ternyata selalu berjauhan dan tak pernah saling bersentuhan ternyata selama ini aku sendiri. Ternyata selama ini tubuhku sunyi, sepi, dan kesepian.
Keterpisahan orang yang melarang dengan pasangannya tidak hanya secara fisik tetapi secara psikologis juga keterpisahan psikologis yang dialami misalnya (1) tidak terjalin komunikasi psikologis yang harmonis dengan pasangannya, (2) timbul kerinduan untuk bersama, (3) merasa hubungan yang dijalin tidak bermanfaat tetapi tak kuasa untuk memutuskannya, (4) merasa kesal dan merah dengan situasi-situasi yang memisalkannya dengan pasangannya, (5) akhirnya persoalan fisiologis dan psikologis tersebut melemparkan orang yang melajang pada kondisi dan perasaan sunyi, sepi, dan kesepian.
Kesadaran bahwa dirinya dalam sunyi, sepi, dan kesepian selalu hadir setiap saat ketiak ia berusaha menerungi hidupnya.
Kebanyakan masyarakat kita memandang kehidupan melajang seperti yang kita fahami dengan pandangan negatif. Bahkan sebagian mereka menempatkan si lajang dalam posisi orang yang memiliki cela sosial. Beberapa diantaranya adalah (1) percuma punya suami juga kalau tidur selalu sendirian, (2) percuma harta menumpuk juga kalau hasil jerih payah istrinya, (3) bahkan sebagian masyarakat mengatakannya sama dengan janda atau duda, (4) mereka juga sering dikatakan sebagai suami yang tidak bertanggung jawab atau istri yang tidak menerimakan penghasilan suami atau istri yang tak patuh pada suaminya, (5) mereka juga sering diponis sebagai suami atau istri yang menterlantarkan anak-anaknya, tidak bertanggung jawab pada anak-anaknya. Ayam juga mau mengasuh anak-anaknya.
HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR: BUKHARI - MUSLIM) KONSULTASI DAN SILATURRAHMI PENULIS HUBUNGI BIN MUHSIN TLP: 021-91913103 HP: 085227044550 email : binmuhsin_group@yahoo.co.id @My Ym, @MyFacebook, @MyTwitter, @MyFriendster, @MyYuwie, @MyMultiply

.jpg)

0 komentar:
Poskan Komentar